"Yang diserang di depan gangnya itu kalau sekarang, mortirnya jatuh di sana.ctidsk sekali ke pusatnya markas komando di dalam Gang 3 sekarang. Jadi setelah serangan itu tidak ada pergerakan pasukan, di sini nyamar semuanya, nggak ada kegiatan kayak markas gitu," katanya.
Guna meminimalisir kecurigaan Belanda biasanya para pejuang dari daerah perbatasan seperti Kecamatan Dau, Wagir, dan sekarang masuk wilayah Kota Batu, pasukan melalui aliran sungai kecil yang ada di Gang 3. Selain sebagai penghubung sungai itu juga menjadi penghubung vital bagi kehidupan sehari-hari warga Malang zaman dahulu.
"Warga biasanya ngambil air di situ, pergerakan pasukan untuk keluar masuk kota juga biasanya lewat situ, namanya Kali Sumber (Sungai Sumber). Itu kenapa markas komando ada di situ, karena banyak pergerakan warga dari daerah-daerah di sekitarnya. Begitu naik info itu banyak," jelasnya.
Eko menambahkan, bila serangkaian serangan - serangan masih dilakukan oleh pejuang-pejuang arek-arek Malang selama tahun 1949. Serangan baru berhenti usai Belanda mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia, serta adanya perjanjian Konferensi Meja Bundar yang berdampak ke Malang juga.
"Penyerahannya pada 6 April 1950, serah terima kekuasaan militer di Jawa Timur, termasuk di Malang dilakukan dari Komandan KNIL Jawa timur Jenderal Mayor JA Scheffelaar kepada Kolonel Sungkono selaku Gubernur Militer Jawa Timur. Semua pasukan Belanda ditarik dari wilayah Republik Indonesia secara bertahap," ujarnya.