Serangan umum di Malang disebut Eko, dikomando oleh tokoh-tokoh pejuang seperti Mayor Hamid Roesdi atau dalam ejaan baru Hamid Rusdi, Kapten Soemitro, Sulam Samsul, hingga pejuang perempuan Soeprapti. Dimana para pasukan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan pejuang memilih strategi wingate atau perang gerilya.
Demi membangun kekuatan dan koordinasi antar pasukan, Eko menjelaskan pejuang-pejuang arek-arek Malang membangun beberapa markas komando. Markas komando ini ditempatkan di perbatasan kota dan luar Kota Malang, atau daerah pinggiran, di antaranya di Turen dan wilayah Tawangsari, yang kini menjadi Sumbersari, masuk Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
"Di sini dulu markas komando gerilya. Setelah agresi militer Belanda tahun 1947, pejuang itu semua mundur. Mundur sampai perbatasan dan pinggiran. Di sumbersari sini dulu pinggiran daerahnya, bisa dilihat di peta Kota Malang yang dikeluarkan Belanda tahun 45," jelasnya.
Di daerah Sumbersari, Malang, yang kini berdekatan dengan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, pejuang membangun kekuatan dan berkoordinasi. Beberapa persenjataan hasil penyerahan dari Jepang juga telah dimiliki masing-masing arek-arek Malang.
Hal inilah yang membuat kawasan Gang 3 dan Gang 4 Jalan Raya Sumbersari saat ini, ketika Agresi Militer II pernah dibombardir Belanda dengan mortir. Namun karena markas komando yang tak terlihat, dan kebanyakan pejuang menyamar hal itu membuat serangan Belanda kurang berhasil.