Selain botol, pihaknya juga membagikan karung yang telah disablon dengan tulisan sedekah rongsok kepada masyarakat guna menampung barang-barang bekas pakai.
Botol dan karung dibagikan kepada warga untuk menampung jelantah, selanjutnya disetorkan ke pengurus sedekah Jelantah dan rongsok.
"Awalnya, hanya tiga sampai empat jeriken per bulan, masing-masing berkapasitas 18 liter. Namun belakangan bisa mencapai 7-8 jeriken per bulan karena warga di luar lingkungan RW 05 juga ikut berpartisipasi," katanya.
Jelantah yang telah terkumpul, selanjutnya dijual ke pengepul di Klaten dengan harga Rp100.000 per jeriken untuk diolah menjadi biodiesel pada salah satu industri di Surabaya.
Uang hasil penjualan jelantah, digabungkan dengan uang hasil penjualan rongsok maupun kegiatan lainnya. Selanjutnya digunakan untuk membantu warga yang terkena Covid-19.