"Daerah ini setiap musim kemarau selalu kesulitan air bersih. Kemudian, desa ini mendapatkan bantuan pembuatan sumur untuk mengatasi kesulitan warga mendapatkan air. Sehingga sering mendapatkan droping air," ujarnya.
Setelah dibor hingga kedalaman 120 meter, air keluar dari lokasi tersebut. Namun karena air yang keluar rasanya cukup asin, akhirnya sumur yang sudah dibor ini ditinggalkan begitu saja. Kemudian, di awal Januari 2020, masyarakat setempat kembali mengecek bekas lokasi sumur bantuan dari Baznas tersebut.
Warga keheranan, ternyata pipa paralon yang sudah tersambung itu tetap mengeluarkan air warga pun kemudian mengikuti arah pipa paralon tersebut. Dan ternyata pipa itu mengarah pada sumur sudah digali.
"Malam harinya pak Kades dan beberapa pemuda desa melakukan penelusuran pipa plaron. Karena kondisinya malam hari dan tidak ada penerangan, dinyalakan lah korek api. Ternyata saat didekatkan di air malah menyala. Kemungkinan ada gasnya. Dan oleh warga dicoba untuk memasak telur juga matang," ujarnya.
Sejak saat itulah, fenomena alam yang akhirnya diberi nama oleh istri bupati Air Berapi Dukuh ini mulai diserbu warga yang merasa penasaran dan ingin melihat keajaiban alam.