Pada masa itu, menginang merupakan salah satu bentuk keramahtamahan karena dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua, rakyat biasa hingga para raja. Sirih dan pinang dinilai sebagai obat yang mengandung antiseptik serta sebagai barang kenikmatan.
Sirih dan pinang juga disajikan pada tamu sebagai tanda keramahtamahan, penerimaan dan sopan santun. Di beberapa pulau di Indonesia, menginang pun tidak hanya disuguhkan untuk orang yang masih hidup, melainkan juga sebagai suguhan dalam upacara penguburan bagi roh orang mati serta sesaji bagi para leluhur dalam upacara adat.
Menginang awalnya dilakukan agar aroma mulut menjadi lebih sedap, namun hal ini malah menjadi kebiasaan yang menimbulkan kesenangan dan kenikmatan sendiri, sehingga menjadi candu dan sulit untuk dilepaskan.
Di sisi lain, menginang ternyata bagus untuk alternatif perawatan gigi. Menginang juga dapat menyembuhkan luka di mulut, menghentikan pendarahan gusi, dan bagus dijadikan obat kumur.
Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat Jawa masih sangat percaya terhadap dampak positif tersebut, terutama para lansia. Mereka yakin bahwa menginang akan membuat gigi sehat dan semakin kuat.