Mengenal Tradisi Nginang, Berikut Sejarah dan Filosofinya
SEMARANG, iNews.id - Tradisi Nginang sangat jarang dijumpai, bahkan hampir punah di Indonesia. Tradisi nginang ini sudah ada sejak zaman dahulu kala.
Tradisi nginang dilakukan dengan mengunyah bahan-bahan bersirih seperti pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, cengkih. Nginang dahulu biasa dilakukan oleh orang yang suka memakan kudapan. Kalau saat ini bisa diibaratkan seperti permen atau makanan ringan lainnya.
Kebiasaan menginang atau menyirih telah lebih dari 3.000 tahun yang lampau atau pada zaman Neolitik. Ada juga catatan para musafir Tiongkok yang mengungkapkan bahwa sirih dan pinang sudah dikonsumsi sejak 2 abad sebelum Masehi.
Selain dikonsumsi, sirih pinang juga menjadi simbol bagi adat Melayu. Hal ini dibuktikan dari tradisi lisan Melayu berupa sastra, seperti sirih pembuka pintu rumah, sirih pembuka pintu hati.
Dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan bahwa di Pulau Jawa pinang dan sirih sudah ada pada beberapa prasasti pada abad ke-9 sampai abad ke-10 masehi. Bahkan, berita dinasti Sung pada abad ke-10 sampai abad ke-14 Masehi mencantumkan sirih dan pinang sebagai salah satu mata dagangan yang diekspor dari Pulau Jawa.