Mengenal Tradisi Nginang, Berikut Sejarah dan Filosofinya

Tim iNews.id
Pedagang daun siri untuk nginang di pelataran Masjid Agung Solo saat tradisi sekaten. Siri bagian dari tradisi nginang.(Foto Dok Antoni)

Tradisi nginang memiliki filosofi yang diambil dari beberapa bahan yang digunakan. Pertama, sirih bermakna sifat rendah hati seseorang, memberi, serta senantiasa memuliakan orang lain. Kemudian, pinang bermakna keturunan yang baik.

Kemudian, kapur dan tembakau melambangkan ketabahan hati dan rela menolong sesama. Sementara gambir bermakna kesabaran dan keteguhan hati seseorang. Semua bahan tersebut harus di racik menjadi satu kesatuan yang pas dan dicampur dengan tepat untuk menghasilkan cita rasa yang enak.

Sayangnya, nginang memiliki rasa yang tidak semua orang bisa menerimanya, sehingga tradisi ini pun lambat laun mulai menghilang, hanya orang tua berusia lanjut yang saat ini masih melakukan kebiasaan ini. 

Begitulah tradisi nginang yang sudah hampir punah di Indonesia. Penjelasan sejarah dan filosofi tradisi nginang ini semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, KAI Daop 8 Surabaya Layani 38.000 Penumpang

57 tahun lalu

Gunung Semeru Meletus Siang Ini, Kolom Abu Capai 500 Meter ke Langit

57 tahun lalu

Gunung Semeru Meletus, Abu Vulkanis Menyembur Setinggi 1 Km ke Langit

57 tahun lalu

Satgas Damai Cartenz Buru KKB Penikam Perempuan Penjual Pinang di Yahukimo

57 tahun lalu

Mengulik Masa Kejayaan Bojonegoro di Balik Polsek Padangan Gedung Bergaya Kolonial

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal