“Kami mencoba ngelingke (mengingatkan). Kalau yang nonmuslim (nasrani), saya sering minta mereka baca di Amsal, isinya tentang perjalanan manusia. Ada yang bercerita, setelah di sini (ditahan) baru baca kitab suci. Karena memang kan nggak ada kegiatannya (banyak waktu longgar),” kata Fannky.
Turut andil membina para tahanan dengan diberi kegiatan-kegiatan positif, juga diarahkan Fannky ke pengampu-pengampu tahanan di polres-polres di Jawa Tengah. Selain itu, saat ini juga sudah dibuka kunjungan besuk tahanan offline dengan pengamanan ketat, pemeriksaan barang bawaan dan pengadiminstrasian pengunjung.
“Selalu coba kami ingatkan. Bertaubat atau tidak bertaubat itu kan kewenangan Tuhan,” katanya.