Sisa bangunan pesanggrahan itu konon masih ditemukan oleh penduduk sampai sekitar 100 tahun yang lalu. Bangunannya menyisakan tembok melingkar yang ditemukan di Prawata sebagai keraton. Brumund masih melihat di sana sebuah pintu gerbang yang sudah setengah hancur yang dinamakan Gapura.
Di belakangnya terdapat sepetak kecil tanah, ketinggian yang oleh penduduk dipandang sebagai sitinggil keraton. Di Garuda yang terletak di dekatnya itu konon ditemukan tempat mandi yang dihuni oleh kura-kura yang keramat. Ini mengingatkan orang pada sebuah kolam seperti itu di Kotagede yang juga dihuni seekor kura-kura yang tersohor.
Sejauh dua pal dari Prawata, terletak Desa Undaan, di sana para kebayan masih tampak lalu lalang dengan dada telanjang dan memakai kuluk, karena menurut cerita tutur mereka ditunjuk sebagai para abdi Raja Demak.
Jadi, puing-puing Prawata itu dianggap sebagai sisa tempat tinggal raja yang luas, yang pasti lebih dari sekadar sanggar seorang pertapa keturunan raja yang telah memutuskan segala hubungan dengan dunia.
Sehingga, tidaklah mengherankan jika Adipati Pragola II, Raja Pati yang terakhir, melarikan diri ke tempat itu untuk menghindarkan diri dari kejaran bala tentara Mataram yang menang pada 1627.