Pemadaman listrik akibat banjir yang merendam Kota Semarang pada awal Februari itu paling lama mencapai satu pekan. Sebab, genangan banjir tak kunjung surut sehingga petugas PDKB belum berani menyambung aliran listrik.
“Intinya kita tidak pemadaman tidak ingin, tapi karena situasi dan kondisi. Paling lama (pemadaman) kemarin itu seminggu. Jadi tanggal 6 - 7 Februari, ada yang tanggal 13 Februari baru nyala full. Karena intensitas hujan 6 - 13 Februari itu kan tiap malam enggak berhenti. Kadang berhenti kemudian hari besok hujan lagi,” ujarnya.
“Kita sambil mengamati kondisi air itu, teman-teman hampir tiap hari cek lokasi. Bahkan pagi, siang, sore, malam pun kita cek lagi kondisi di lapangan. Menembus genangan banjir, ada yang jalan kaki ada yang pakai perahu karet,” katanya.
Pihaknya juga rutin menjalin komunikasi dengan BPBD Kota Semarang untuk memantau debit banjir. Sedikit bernapas lega, banjir kembali menerjang Ibu Kota Jawa Tengah pada Selasa 23 Februari. Hujan deras sejak siang hingga sore mengakibatkan banjir besar termasuk Kantor Gubernur Jateng di Jalan Pahlawan.
“Kita jalin komunikasi dan dapat ada info dari BPBD dan dinas terkait. Misalnya banjirnya setinggi 30 - 40 sentimeter, instalasi mereka (warga) biasanya masih aman karena ada di atas. Yang kita khawatirkan apabila banjirnya sudah di atas 80 sentimeter, itu yang menjadi perhatian kita,” lugasnya.