Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto mengatakan, terkait klaster di SMAN 4 Pekalongan memang diawali dari adanya satu guru yang dalam kondisi sakit, tapi tetap masuk bekerja.
Karena mengalami gejala anosmia, yang bersangkutan bersama dua guru lain yang telah kontak erat diminta kepala sekolah setempat untuk melakukan swab test PCR pada 25 Mei. Hasilnya, ketiga orang tersebut dinyatakan positif Covid-19.
Petugas menelusuri kontak erat ketiga guru tersebut. Pada 28 Mei kembali dilakukan swab test PCR terhadap tujuh guru lain dengan hasil satu orang positif Covid-19.
Selanjutnya, dilakukan pengembangan kembali dengan kesepakatan melakukan swab test PCR terhadap 56 guru dan tenaga kependidikan lain pada 31 Mei. Hasilnya 33 orang dinyatakan positif Covid-19. Total terdapat 37 guru dan tenaga kependidikan yang positif Covid-19.
"Saat ini masih ada pengembangan kembali karena ada beberapa guru yang belum melakukan swab," katanya.