Dugderan, Tradisi Warga Semarang Sambut Bulan Ramadhan yang Unik

Inas Rifqia Lainufar
Tradisi Dugderan digelar setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadan di Kota Semarang. (Foto Ahmad Antoni)

JAKARTA, iNews.id - Dugderan merupakan tradisi menyambut bulan Ramadhan yang dilakukan oleh warga Semarang. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak berabad-abad silam.


Disebut Dugderan karena ‘dug’ merupakan suara bedug dan ‘der’ adalah bunyi meriam. Pada praktiknya, tradisi ini memang berupa pesta menyambut bulan suci dengan membunyikan bedug dan meriam.


Adapun sejarah hingga pelaksanaan Dugderan yang patut untuk diketahui adalah sebagai berikut.


Sejarah Dugderan


Dilansir dari situs Warisan Budaya Kemdikbud, Rabu (1/3/2023), Dugderan sudah ada sejak abad ke-19. Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat merupakan tokoh yang menggagas tradisi tersebut di sekitar tahun 1862-1881.


Dugderan digelar untuk memberikan informasi seputar permulaan bulan Ramadhan pada masyarakat. Pasalnya, tidak ada lembaga resmi yang menentukan awal bulan Ramadhan pada waktu itu.


Dalam pelaksanaannya, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat akan memerintahkan bawahannya untuk membunyikan suara bedug sebanyak 17 kali dan diikuti dengan suara dentuman meriam sebanyak 7 kali. Mendengar suara tersebut, masyarakat akan berkumpul di alun-alun kota yang terletak di depan masjid Kauman.


Jika sudah berkumpul, Kanjeng Bupati dan Imam Masjid Besar akan memberikan sambutan kepada masyarakat. Dari sanalah, warga diberitahu mengenai waktu awal bulan Ramadhan.


Pelaksanaan Dugderan


Pelaksanaan Dugderan pada zaman sekarang tak jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Akan ada bedug dan meriam yang dibunyikan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.


Tak hanya itu, terdapat pula pengumuman awal Ramadhan yang dilakukan oleh tokoh setempat. Masyarakat yang hadir pun akan mengetahui awal dilaksanakan puasa.


Selain itu, terdapat agenda lain yang membuat Dugderan semakin meriah. Agenda tersebut yakni pasar malam, kirab budaya, dan Warak Ngendok. 


• Pasar malam dan kirab budaya


Sama seperti pasar malam pada umumnya, pasar malam dalam rangkaian tradisi Dugderan akan dipenuhi oleh pedagang barang-barang atau makanan. Warga setempat pun bakal dimanjakan dengan kemeriahannya.


Selain itu, akan ada kirab budaya yang diarak di sepanjang jalanan kota. Warga pun bergembira menyaksikan kirab tersebut.

Editor : Komaruddin Bagja
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Makna Dugderan, Tradisi di Semarang yang Jadi Sarana Dakwah Islam

57 tahun lalu

Deretan Event Wisata di Jateng 2023, Ada Arak-arakan Cheng Ho hingga Dieng Culture Festival

57 tahun lalu

5 Tradisi Kota Semarang, Nomor 4 Warisan Sunan Kalijaga Penyebar Islam di Tanah Jawa

57 tahun lalu

Kreatif, Begini Kolaborasi Tarian Tradisional Jawa Tengah dan Nusantara

57 tahun lalu

Begini Tradisi Dugderan Sambut Ramadan dengan Suasana Terbatas di Kota Semarang

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal