“Pada 17 April bapak saya meninggal. Sebelumnya sudah sakit-sakitan. Suami sakit bapak saya sakit. Jadi bolak-balik sama anak. Pada 21 April suami saya meninggal,” ungkap Okta. Dia mengungkapkan kondisi saat itu menjadi masa-masa terpuruk dalam menjalankan usahanya. Saat itu dia menghentikan sementara penjualan ayam oven.
“Setelah bapak meninggal, saya berhenti enggak jualan. Baru setelah 100 harinya, saya jualan lagi. Jadi saya mulai jualan pada bulan Agustus kemarin. Semenjak itu per hari minimal 5-10 ekor terjual. Untuk satu ekornya dijual Rp85.000,” sebutnya.
Usaha berjualan Ayam O yang dirintisnya dilalui penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Namun pengalaman bekerja di berbagai bidang seakan telah menempanya menghadapi masa-masa sulit. Okta menceritakan sebelum menekuni usaha ayam oven rempah, dirinya sempat bekerja sebagai penulis lepas, editor video hingga fotografer.
“Pada tahun 2008 saya pernah menjadi penulis lepas, koordinator liputan sebuah majalah. Kemudian tahun 2009 editor video wedding. Pada 2010 pernah bekerja di Dreamlight World Media Ungaran hingga tahun 2015,” ujar perempuan kelahiran 15 Oktober 1990 ini.
Dalam perjalanan waktu, dia sempat berhenti bekerja usai menikah dan mempunyai anak. Bahkan cobaan berat dialaminya ketika sang suami (almarhum) menjadi korban penipuan.