Sehingga, dalam kajian ujicoba itu juga menunjukan fakta rata-rata santri melakukan perundungan lima kali dalam sebulan. “Hasil ini terlihat nyata dan harus dirembuk bersama untuk diatasi dengan baik,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengembangan iklim dengan melibatkan siswa sebagai Agen Perubahan sangat efektif dilakukan. Sehingga bisa mengidentifikasi akar perubahan dari perundungan sekaligus mencari solusinya.
Di Ponpes Al Anwar 4 sendiri ada 46 Agen Perubahan yang terdiri dari 25 putra dan 21 putri. Mereka dipilih melalui jajak pendapat tertutup dari teman-temannya. Mereka dipilih karena memberikan pengaruh besar bagi siswa lainnya. “Para siswa juga dibimbing para fasilitator hebat yang membantu mereka,” ujarnya.
Fasilitator sendiri berasal dari pendamping di pesantren dan juga orang muda dari Yayasan Setara dan LPA Klaten. Harapannya, model seperti ini dapat direplikasi ke pesantren-pesantren lain yang ada di Jawa Tengah.
Pengasuh Pondok Pesantren Alhamdulillah Rembang KH Ali Mahmudi mengatakan, kader-kader terbaik dari pesantren harus bisa dipastikan aman dalam belajar. Apa yang dilakukan Unicef bersama dengan lembaga lainnya di sini sejalan dengan langkah pesantren dalam mengembangkan para santri.