Idul Fitri oleh masyarakat, bahkan para tokoh agama, sering diartikan sebagai 'kembali suci'. Para khatib sering memberi kabar gembira kepada masyarakat yang telah menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan bahwa pada saat idul fitri mereka telah kembali suci, bersih dari semua dosa.
Setelah itu diikuti dengan meminta maaf kepada sesama, tetangga kanan-kiri. Sehingga usai hari raya, kembali layaknya bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa.
Turunan dari pemaknaan 'Kembali Suci' sebagian masyarakat menyebut tanggal 1 syawal dengan ungkapan ‘hari yang fitri’.
Dikutip dari laman Konsultasi Syariah, setidaknya ada 2 kesalahan fatal terkait hal pandangan kembali suci tersebut. Pertama adalah kesalahan bahasa dan yang kedua yakni kekeliruan keyakinan bahwa semua dosa akan diampuni.
Idul fitri berasal dari dua kata; id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].
Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ibnul A’rabi mengatakan,