Namun, jalur ini memiliki kontur naik-turun khas perbukitan. Bagi pengendara mobil atau motor dengan mesin standar, perlu memastikan kondisi kendaraan prima sebelum melewati jalur ini.
Kelebihan:
Menghindari kemacetan jalur utama Jogja–Solo.
Menawarkan pemandangan alam perbukitan yang menyejukkan.
Bisa singgah di beberapa objek wisata.
Kekurangan:
Kontur jalan naik-turun, kurang cocok untuk kendaraan besar.
Waktu tempuh sedikit lebih lama jika dibandingkan jalur utama.
Bagi pengendara dari arah Solo, jalur Delanggu–Boyolali bisa menjadi pilihan untuk menuju Klaten tanpa harus melewati pusat kota yang sering macet. Dari Solo, Anda bisa menuju Boyolali terlebih dahulu, lalu mengambil jalan tembus ke arah Delanggu hingga masuk ke wilayah Klaten.
Jalur ini lebih lengang dibanding jalur utama Solo–Jogja, terutama pada jam sibuk. Jalan relatif lebar, meski beberapa titik melewati area pedesaan. Keunggulannya, pengendara bisa merasakan suasana khas pedesaan Jawa dengan sawah luas serta udara segar yang jarang ditemui di jalur utama.
Selain itu, jalur ini juga melewati kawasan industri kecil dan pasar tradisional, sehingga menjadi pengalaman berbeda bagi yang ingin merasakan perjalanan ala lokal.
Kelebihan:
Lalu lintas relatif lebih sepi.
Jalan cukup lebar dan mudah dilalui kendaraan roda empat.
Pemandangan sawah dan desa yang menenangkan.
Kekurangan:
Minim penerangan di malam hari.
Beberapa ruas jalan masih perlu perbaikan.
Jalur ini bisa diakses dari arah selatan Klaten atau bagi pengendara yang ingin menikmati rute berbeda. Dari Cawas, perjalanan bisa dilanjutkan ke Bayat, lalu menembus hingga wilayah Gunungkidul. Dari sini, jalur dapat diarahkan kembali ke Klaten melalui jalan penghubung antar kabupaten.