Wayang ini pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekik, adipati Surabaya dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga semakin sering dinamakan dengan wayang krucil.
Di Jawa Tengah wayang klithik benar bangun-bangun yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris dan menggunakan tutup kepala tekes atau kapas. Di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang mirip wayang purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba.
Atau wayang orang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabharata dan Ramayana yang mengandung pesan-pesan moral.
Selain bentuk pertunjukan teater tradisional, wayang orang juga diisi dengan sendratari. Di Yogyakarta wayang orang dikembangkan Sultan Hamengkubuwono I pada 1750-an.
Menurut Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta, selain sebagai seni adiluhung, wayang orang menjadi alat politik untuk meraih legitimasi sebagai penguasa yang sah dari Mataram dan penerus tradisi kebudayaan Majapahit.