Diakuinya, realisasi investasi di Jawa Barat masih bagus. Dalam lima tahun terakhir angkanya berada di atas Rp100 triliun di mana pada 2022 di angka Rp174,58 triliun.
Namun, kata dia, kondisi ini berbanding terbalik dengan serapan tenaga kerja dengan hitungan investasi di atas Rp 1 triliun. Penyerapan tenaga kerja per investasi Rp1 triliun pada 2022 hanya mencapai 1.050 orang. Kondisi ini alami penurunan sejak 2017 yang hanya 1.808, di mana pada 2016 jumlahnya mencapai 3.486 orang.
"Memang Jabar miliki realisasi investasi tertinggi dibandingkan provinsi lain, tapi terjadi penurunan daya serap tenaga kerja dibandingkan beberapa tahun sebelumnya karena yang masuk itu investasi padat modal, bukan padat karya," tuturnya.
Dengan kondisi ini, kata dia, mau tak mau para pekerja di Jawa Barat harus mulai bisa meningkatkan keterampilan agar bisa bekerja di industri padat modal yang berteknologi tinggi. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah angkatan kerja di Jabar masih didominasi lulusan sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA/SMK).
Hal ini, kata dia, dikhawatirkan bisa menjadi bumerang untuk perkembangan industri di Jabar. Karena, sektor padat karya persaingannya luar biasa bukan hanya di regional, tapi dalam skala internasional.
"Dengan melemahnya pasar dan persaingan ketat, maka buyer (pembeli) memilih produsen dengan biaya termurah atau yang paling kompetitif," katanya.
Langkah lainnya yang bisa dilakukan kepala daerah adalah melakukan kolaborasi dan menahan agar perusahaan tidak relokasi. Kemudian melakukan penyesuaian upah sesuai kondisi saat ini.