Kemudian, satu bundel print out akun Telegram, satu bundel bukti penarikan uang, satu bundel data akun kartu prakerja, dan satu bundel print out data akun, satu set modem, satu mesin printer merk Brother, dan dua modem full (blasting).
Lalu, 5.000 SIM card berbagai provider, dua kartu atm, satu KEY BCA, dua kartu ATM Bank BCA, satu Kartu Kredit Bank BCA, satu kartu Jenius, dan tiga buah Flashdisk. Satu buah Kartu ATM Bank BCA, satu buah kartu Jenius, dua dus sim card provider, dan lain-lain.
Sementara itu, Direktur Ditreskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Arief Rachman mengatakan, kronologi kejadian berawal pada 2019 tersangka BY besama empat pelaku lain, AP, RW, AW, dan WG membuat Group Toketer mencoba daftar dengan akun sendiri ke website prakerja.go.id gelombang pertama dan mengikuti seluruh tahapan sampai selesai dan mendaptkan insentif sebanyak Rp2.550.000.
Tersangka BY selaku hacker, kata Direktur Ditreskrimsus, membuat script untuk scrapping secara random data NIK dan KK dari website BPJS Ketenagakerjaan.go.id. Dengan keahliannya, terangka BY mendapatkan total hasil data sebanyak 12.401.328 data dengan NIK dan photo yang berhasil diambil sebanyak 322.350 data yang disimpan di penyedia VPS di US.
"Dari data tersebut yang terverivikasi sistem sampai minta email sebanyak 50.000 data. Kemudian sekitar 10.000 akun yang bisa sampai tahapan mendapatkan OTP dari sistem," kata Direktur Ditreskrimsus Polda Jabar.