Baru lebaran kali ini anak bungsu tersebut datang untuk bertemu. Itupun, ujar Mursiah, sang anak bungsu harus beberapa kali ditelepon dan dimarahi oleh kakak-kakaknya.
“Saya gak tahu kenapa sampai seperti itu, beda aliran. Salaman tidak mau. Saya selawatan tidak boleh. Dengar yang nyanyi tidak boleh. Gak boleh tahlil. Gak boleh yasinan,” ujarnya.
“Waktu satu rumah juga saya nonton TV tidak boleh. Saya mau cuci pakai mesin cuci gak boleh campur katanya. Jadi saya pakai ember khusus. Jemur juga dipisah,” tutur Mursiah, sedih.
Selain anak bungsu, anak pertamanya yang seorang perempuan juga tak pernah menemuinya lagi. Anak pertama itu menikah dan kini tinggal di Lampung.
“Anak pertama di Lampung ikut aliran itu, sama. Mantu saya kalau lagi sholat, saya di belakangnya ikut jadi makmum, langsung berhenti. Mungkin bukan satu aliran, saya najis kali. Sudah lama sekali tidak ketemu anak yang perempuan. Saya pernah ke sana, barang-barang dibuangin,” ucapnya.