"Tunnel 2 memang salah satu titik tersulit. Lokasinya berada di area clay shale yang karakteristik tanahnya mudah lapuk apabila terekspos saat penggalian. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam pengerjaannya dan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru," ujar Dwiyana.
Dalam penanganan tunnel 2, tutur Dwiyana, terjadi transfer teknologi antara tenaga ahli tunnel dan grouting dari China dengan tenaga ahli lokal dalam hal ini dari ITB. Seluruh tenaga ahli baik dari China maupun Indonesia berkolaborasi untuk menangani tantangan geografis di tunnel 2.
Melalui kolaborasi ini, terjadi transfer pengetahuan dalam bidang konstruksi terowongan, sekaligus mengatasi kendala dalam proses konstruksi di tunnel 2. "Para ahli dari China dan ITB memaksimalkan transfer pengetahuan kepada seluruh pekerja KCJB di titik konstruksi tersebut," tuturnya.
Presdir PT KCIC mengatakan, tenaga ahli berpengalaman tersebut didatangkan untuk membantu bagian permukaan terowongan karena sangat menguasai metode grouting yang selama ini dipakai untuk mengerjakan beberapa proyek terowongan KCJB.
"Pengerjaan tunnel 2 di area clay shale membutuhkan penanganan khusus. Sebab, pengerjaan tunnel 2 KCJB menggunakan metode grouting, kami mengumpulkan para ahli tunnel yang menguasai grouting dari China dan dari ITB untuk membantu memperkuat surface tunnel atau permukaan terowongan," ucap Dwiyana.