Tetapi belakangan nilai-nilai dasar kehidupan bangsa tersebut, ujar Prof Didi, tercabik-cabik dan tercerai-berai dengan beragam alasan, kepentingan dan egoisme kelompok, sehingga memperkuat kembali munculnya etnosentrisme dan fundamentalisme agama yang menohok keutuhan bangsa ini.
Menyikapi fenomena tersebut dan berlandaskan kesadaran untuk lebih memperkokoh kebersamaan, persatuan, toleransi, dan keutuhan bangsa, maka dengan ini kami menyatakan hal-hal sebagai berikut:
1. Dirasa perlu memperkuat kembali silaturahmi antara tokoh-tokoh Sunda dalam membangun dan menjaga keutuhan Sunda dari personal-personal yang coba membuat polemik dan kontroversi yang mengancam toleransi dan disintegrasi. Karena itu, perlu menjaga komitmen berbagai komponen masyarakat untuk bersatu dalam menguatkan nilai-nilai kesundaan, kebangsaan, dan keindonesiaan.
2. Bahwa Maklumat Sunda yang muncul belakangan ini, yang dilakukan sekelompok orang mengatasnamakan Sunda, sesungguhnya tidak merepresentasi keseluruhan masyarakat Sunda.
3. Dalam Orasi maklumat Sunda, ada yang menyampaikan terkait penggabungan tiga provinsi (Jabar, Jakarta, dan Banten) yang menjadi Provinsi Sunda Raya. Orasi tersebut hanya ilusi dan romantika sejarah yang tidak berdasar karena dalam sejarah tidak ada yang namanya Sunda Raya.