Setelah meraih gelar Doktor, Imam masih memiliki keinginan untuk mengabdi sebagai dosen. Namun, kendala usia menyebabkan keinginannya menjadi dosen sulit terpenuhi.
Padahal, sebelum menjadi anggota legislatif, Imam tercatat sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. “Sebagai pengajar, saya terhenti saat saya masuk ke DPR. Sekarang ketika sudah tidak jadi anggota dewan, saya sulit menjadi dosen lagi karena terkendala usia,” ujarnya.
Politik, tutur Imam, menjadi salah satu aktivitas yang disukai. Hal ini pula yang mendorong Imam untuk mengambil studi komunikasi program magister dan doktor. Pada program doktor Ilmu Komunikasi Unpad, Imam pun mengambil spesifikasi komunikasi politik.
Menurut Imam, komunikasi merupakan ilmu yang penting dipelajari, khususnya oleh para politikus. Banyak kekeliruan yang terjadi oleh pemerintah, salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan pemimpin negara melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, utamanya kepada rakyat.
“Banyak informasi penting tidak tersampaikan dengan benar, sehingga menjadi berita simpang siur, hingga akhirnya menyebabkan terjadinya konflik,” tutur Imam.
Karena itu, usai meraih gelar doktor, dia bersama koleganya akan membuat sekolah politik. Sekolah ini bertujuan untuk menyiapkan kader menjadi calon anggota legislatif periode 2024 mendatang. “Mungkin ilmu yang saya dapatkan dari Unpad ada manfaatnya di sekolah politik ini,” kata Imam Suhardjo.