"Ikatan paling luhur sebagai manusia adalah perkawinan. Batu adalah media. Kerasnya batu adalah pemikiran. Jadi (kawin batu bisa diartikan) perkawinan pemikiran, hati, jiwa, dan raga. Lebih kepada perkawinan ideologi. Makanya kita membawa nama kawin batu," tutur dia.
Berangkat dari situ, kata Hendra Wahid, muncul lah istilah penggunaan Bhineka Watu Tunggal Ika. Dengan kerasnya pemikiran dari berbagai pihak yang menjalin kerja sama, diharapkan akan muncul kebersamaan yang kuat.
"Kami ingin bersama-sama merayakan kebersamaan dan juga sebagai wujud nyata mewujudkan sila ke tiga yaitu Persatuan Indonesia. Menjalin hubungan baik manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya," ucap Hendra Wahid.
Daya Tarik Wisata Majalengka
Biasanya, Festival Kawin Batu dihelat di Desa Girimukti, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, tempat Sekretariat Padepokan Kirik Nguyuh. Namun, pada tahun ini, Festival Kawin Batu dihelat di Desa Padahanteun.
"Ada semangat dan kegelisahan yang sama antara kami dengan teman-teman di sini, termasuk pemerintah desa. Ke depan, Kawin Batu mungkin digelar di tempat berbeda lagi," kata Baron selaku penggagas Padepokan Kirik Nguyuh.