Mendengar hal tersebut Kang Dedi Mulyadi pun berinisiatif untuk merehab F agar kembali menjadi anak baik. Terlebih melihat kondisi F yang kurang pengawasan dari ibunya karena bekerja juga kakek dan buyutnya yang sudah tua.
Kang Dedi membujuk F untuk mau dididik di Ponpes Cireok, Desa Cijaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta. Dedi khawatir jika dibiarkan, F akan semakin nakal karena salah bergaul.
“Di sini gaul dengan anak yang lebih besar. Saya khawatir malah gaul dengan orang yang biasa berbuat kejahatan besar. Soalnya anak seperti ini bisa dididik jadi penjahat gede. Ngeri ini,” kata Kang Dedi.
Pihak keluarga pun setuju dan senang atas tawaran Kang Dedi tersebut. Pihak keluarga sudah pasrah dan tak tahu lagi harus berbuat apa agar F bisa berubah. F sempat menolak untuk ikut bersama Dedi. Namun Dedi terus merayu sambil memberikan pilihan apakah akan ikut atau diproses ke kepolisian.
“Hayu milu jeung bapak (ayo ikut sama bapak). Lamun engke diproses ku polisi bisa asup kejahatan anak (Kalau nanti diproses polisi bisa masuk kejahatan anak). Mending milu bapak, diurus (mending ikut sama bapak, diurus). Pertama kebiasaan minum (miras) dihilangkan. Kedua otaknya dibersihkan, kebiasaan merokoknya dihilangkan. Mumpung ada yang sayang. Sekarang tinggal pilih ikut bapak nyantri atau dipolisikan?” ujar Dedi.