Iyan mengaku ingin memeriksakan kromosom anaknya, sesuai rekomendasi dokter, agar bisa memastikan jenis kelamin AQR. Namun, dirinya tidak bisa berbuat banyak. Mereka tidak memiliki biaya untuk pemeriksaan kromosom yang menelan biaya cukup besar. Sebagai penjual gorengan keliling, penghasilannya tidak menentu.
“Kami berharap anak kami seperti anak seusianya, bisa dipastikan jelas jenis kelaminnya. Jujur saja, kami kesulitan saat ini untuk memenuhi biaya pemeriksaan kromosom anak kami. Kami berharap bisa mendapat bantuan. Kami akan menerima hasilnya, kalaupun dia perempuan atau memang laki-laki,” kata Iyan.
Kondisi AQR yang memiliki dua jenis kelamin juga ternyata berpengaruh pada kondisi psikisnya. Menurut orang tua AQR, meskipun masih berusia tiga tahun, bocah itu sudah terlihat minder bermain dengan teman-teman sebayanya.
“Jika dia mau buang air kecil pun, dia harus berlari dulu ke rumah lantaran dia mengaku merasa malu kepada teman-temannya,” kata ibu AQR.