Iyan dan istrinya sudah beberapa kali membawa AQR ke rumah sakit. Namun, pihak dokter tidak bisa memberikan kejelasan tentang status kelamin yang dimiliki bocah tersebut.
Sampai AQR kini berusia tiga tahun, dirinya masih tidak bisa memastikan status gender anaknya, apakah laki-laki atau perempuan. Mereka belum memiliki biaya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi kromosom AQR.
“Sampai sekarang, kami belum mendapat kepastian kalau anak saya itu laki-laki atau perempuan karena belum keluar hasil kromosomnya. Dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin mengatakan, harus ada hitam di atas putih yang menerangkan kromosom anak saya identik dengan laki-laki atau perempuan,” katanya.
Meski jenis kelaminnya belum pasti, Iyan dan istrinya mendidik dan memperlakukan anaknya sejak kecil sebagai anak laki-laki. Rambut AQR dipotong pendek dan diberikan pakaian layaknya anak laki-laki. AQR juga hanya dibolehkan bermain dengan mainan yang biasanya digunakan anak laki-laki, seperti mobil-mobilan.
“Dari karakter, sampai sekarang saya arahkan untuk laki-laki. Kalau anak saya mau main permaianan perempuan seperti boneka, saya larang, takutnya nanti seperti perempuan,” kata Iyan.