SDM Astronom Peneliti di Indonesia Terbatas
"Namun sekali lagi, ilmuwan, astronom kita mesti cukup critical mass (kemampuannya) untuk bisa bersaing dengan negara lain. Itu justru yang mengkhawatirkan menurut saya karena jumlah astronom kita kan gak banyak," kata dia.
UU Antariksa RI, ujar Hakim, belum banyak mengangkat isu tentang pencetakan sumber daya manusia (SDM) yang tangggung jawabnya ada di perguruan tinggi. Bagaimanapun, program antariksa itu kuncinya ada pada SDM, bukan pada instrumen canggih.
"Secanggih apapun instrumen, kalau tidak didukung SDM yang punya orientasi kuat, dia hanya akan menjadi instrumen mahal, dipajang begitu saja, jadi monumen," ujar Hakim.
Di Indonesia, perguruan tinggi pencetak SDM astronomi, tutur dia, menyedihkan. Sampai beberapa puluh tahun hingga 2014, Indonesia baru punya satu program studi astronomi, yaitu di ITB.
Namun sejak 2014, ada program studi Science Atmosfer dan Keplanetan di Institut Teknologi Sumatera (Itera) Bandar Lampung, Provinsi Lampung. "Kebetulan saya membidani lahirnya program studi kedua setelah astronomi, yaitu Science Atmosfer dan Keplanetan di bawah rumpun ilmu keantariksaan," tutur dia.