Namun, perempuan tetaplah yang memikul tanggung jawab utama, mengakibatkan mereka mengalami beban yang meningkat secara signifikan.
Semua bentuk ketidakadilan gender di atas pada dasarnya berasal dari akar penyebab yang sama, yaitu stereotip gender yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Stereotip tersebut mengacu pada pemberian gambaran atau label tertentu kepada individu atau kelompok berdasarkan anggapan yang tidak benar atau biasa disebut sebagai prasangka.
Penyandingan label ini seringkali terjadi dalam hubungan antar kelompok dan sering digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan yang dilakukan oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Pelabelan ini juga mencerminkan ketidakseimbangan kekuasaan yang bertujuan untuk mendominasi atau mengendalikan pihak lain.
Pelabelan negatif juga bisa terjadi berdasarkan jenis kelamin, dan sayangnya, sering kali perempuan yang menjadi sasaran pelabelan negatif.
Contoh-contoh pelabelan negatif antara lain:
1. Perempuan seringkali dipersepsikan sebagai cengeng dan mudah digoda.
2. Terdapat prasangka bahwa perempuan kurang rasional dan cenderung emosional.
3. Ada anggapan bahwa perempuan tidak mampu mengambil keputusan penting.
4. Peran perempuan sering dibatasi sebagai ibu rumah tangga dan penyumbang penghasilan tambahan, sementara laki-laki diharapkan menjadi pencari nafkah utama.
Dengan ini, kita mengetahui pentingnya mensejahterakan dari misi Ganjar Pranowo dan Mahfud MD untuk masa depan perkembangan Indonesia.