Sebagai ilustrasi:
a. Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, dan pembantu rumah tangga seringkali dinilai sebagai pekerja dengan status sosial yang rendah, sehingga berdampak negatif pada tingkat gaji atau upah yang mereka terima.
b. Banyak pekerja perempuan di pabrik berisiko di-PHK karena mereka tidak memiliki perlindungan formal dari perusahaan tempat mereka bekerja, dan ini dapat disebabkan oleh stereotip gender, seperti pandangan bahwa mereka hanya mencari penghasilan tambahan, atau karena mereka dianggap pekerja sambilan. Alasan lain bisa termasuk faktor reproduksi, seperti menstruasi, kehamilan, persalinan, dan menyusui.
c. Perubahan dari sistem pertanian tradisional ke sistem pertanian modern dengan penggunaan mesin traktor telah mengakibatkan marginalisasi pekerja perempuan.
Double burden, atau beban ganda, merujuk pada situasi di mana salah satu jenis kelamin memiliki tanggung jawab pekerjaan yang jauh lebih berat dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan sering kali dianggap sebagai peran yang bersifat statis dan abadi.
Meskipun ada peningkatan jumlah perempuan yang terlibat dalam pekerjaan di sektor publik, tidak ada penurunan yang sebanding dalam beban kerja mereka di rumah. Usaha maksimal yang mereka lakukan seringkali melibatkan pengalihan sebagian dari pekerjaan rumah tangga kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya.