Informasi tabrakan kereta itu diduga belum sempat disampaikan secara menyeluruh kepada Kereta Api Argo Bromo Anggrek. Padahal, KA Argo Bromo Anggrek sedang berjalan dengan kecepatan tinggi yakni 110 kilometer per jam.
"Akibat kurangnya informasi dan koordinasi tersebut, terjadilah tabrakan di stasiun Bekasi Timur lebih tepatnya yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia," katanya.
Saat ini petugas tengah melakukan proses penyidikan dengan metode Traffic Accident Analysis atau TAA, dengan cara mereka ulang proses kecelakaan pada saat sebelum, kecelakaan dan sesudah kejadian.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya mencatat hingga saat ini terdapat 15 orang meninggal dunia imbas kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026) malam. Hingga saat ini, proses identifikasi jenazah masih terus dilakukan.
"Iya, 15 meninggal dunia, sampai siang ini," ucap Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Ginting kepada wartawan.