Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh LMR pada pertengahan 1960-an. Kemudian, dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak 1970 hingga saat ini.
Peringatan hari Gizi Nasional adalah momentum penting dalam menggalang kepedulian serta meningkatkan komitmen seluruh pihak dalam menuju bangsa yang sehat berprestasi melalui gizi seimbang, serta produksi pangan berkelanjutan. Sehingga dapat mendorong pencapaian RPJMN (rencana pembangunan jangka menengah nasional) di bidang kesehatan.
Dalam peringatan Hari Gizi Nasional 2023, tema yang diangkat adalah Protein Hewani Cegah Stunting. Sebagai informasi, dalam laman Kemenkes tertulis angka stunting di Indonesia masih tinggi, yaitu 24,4 persen menurut SSGI (survei status gizi Indonesia) pada 2021.
Oleh karena itu, masih diperlukan upaya guna mencapai target penurunan stunting sebesar 14 persen pada 2024. Berdasarkan data SSGI 2019-2021, stunting telah terjadi bahkan sebelum bayi lahir.
Kemudian meningkat paling banyak pada usia 6 bulan di angka 13,8 persen dan usia 12 bulan sebesar 27,2 persen. Hal ini menunjukkan pentingnya gizi ibu sejak hamil, menyusui, serta gizi pada MPASI untuk balita. Ibu hamil memerlukan asupan gizi untuk mencegah stunting.
Stunting yang terjadi saat lahir bisa merupakan akibat adanya kekurangan gizi dan anemia yang dialami sang ibu pada masa remaja hingga saat hamil.
Sementara, mengutip laman Farmasi UI, sejarah hari Gizi Nasional Indonesia yang jatuh setiap 28 Februari menjadi agenda penting pemerintah dalam mensosialisasikan program Perbaikan Gizi Nasional. Hal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi demi hidup yang sehat dan berkualitas.