Purbaya menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama ketidakpastian ekonomi dunia saat ini. Hal ini berdampak langsung pada fluktuasi pasar modal dan potensi lonjakan harga energi internasional yang perlu diantisipasi secara cermat.
“Dinamika penyelesaian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama volatilitas pasar keuangan global, terutama terhadap lonjakan harga energi,” ucapnya.
Memasuki bulan April 2026, KSSK berkomitmen untuk terus menjalankan penilaian berorientasi masa depan (forward looking) guna memastikan sektor keuangan nasional tetap mampu merespons berbagai dinamika yang muncul secara efektif.
Meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama dinilai memuaskan, pemerintah tidak ingin lengah. Purbaya menegaskan bahwa penguatan koordinasi antarlembaga akan terus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan di kuartal kedua tahun ini.
“Global masih penuh ketidakpastian, kita akan mewaspadai ini terus. Untuk domestik, kita lihat kuartal pertama pertumbuhan cukup bagus, tapi kita akan melihat seperti apa di kuartal II tahun ini,” tuturnya.
Sebagai langkah proaktif, pemerintah berencana untuk menyuntikkan stimulus tambahan guna memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan terlindungi dari hambatan variabel makroekonomi.
“Kita waspadai segala kendala yang mungkin timbul dan melihat semua variabel makro yang ada. Kelihatannya pemerintah juga masih akan memberikan stimulus tambahan untuk perekonomian kuartal II 2026,” kata Purbaya.