Alhasil, Satria kecil harus lebih mandiri karena orang tuanya harus bekerja dari Senin-Minggu. Mendapatkan pengalaman pahit tidak naik kelas membuatnya sempat frustasi dengan mengurung diri di kamar.
Namun, setelah mengurung diri di kamar, ia berpikir dan tidak boleh berlama-lama meratapi nasib. Meski tidak naik kelas ia mencoba menjadi siswa yang lebih aktif, mengikuti berbagai olimpiade, aktif organisasi bahkan di tahun selanjutnya saat naik kelas 3 ia dipilih menjadi wakil ketua kelas.
Keaktifan di sekolah itu berlanjut hingga Satria duduk di bangku SMA. Di sana juga, ia bertemu dengan guru bernama Yusuf Ismail yang mengenalkannya dengan Muhammadiyah, organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), belajar mengaji dan agama.
“Waktu itu pengetahuan saya tentang agama sangat kurang, ibu mualaf dan kedua orang tua setiap hari kerja, jadi jarang ada waktu untuk ngobrol. Bersyukur bertemu Pak Yusuf Ismail beliau mengajari saya banyak hal tentang agama termasuk sering ngabsen salat saya,” ujar Satria.
Meski biaya sekolah SMA-nya gratis, Satria memilih sekolah sembari bekerja sebagai pelayanan di daerah Pakuwon. Hal itu dilakukan agar tidak memberatkan medua orang tuanya.