Cerita Miris Dosen Lulusan S3 Australia, Gaji di Indonesia Hanya Rp2,6 Juta
JAKARTA, iNews.id -Dosen tetap non-Aparatur Sipil Negara (non-ASN) Universitas Airlangga (Unair) Cenuk Widiyastrisna Sayekti, menilai tingkat kesejahteraan dosen di Indonesia masih jauh dari memadai. Menurutnya, penghargaan terhadap dosen dan tenaga pendidik di perguruan tinggi belum seimbang dengan pengabdian, beban kerja, maupun kualifikasi yang dimiliki.
Pernyataan tersebut disampaikan Cenuk saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta pada Selasa (30/6/2026). Sidang itu merupakan bagian dari perkara Nomor 272/PUU-XXIII/2025 dan 24/PUU-XXIV/2026.
Dalam keterangannya, Cenuk mengungkapkan gaji pokok yang diterimanya sebagai dosen tetap non-ASN di Unair hanya sekitar Rp2,6 juta per bulan, meskipun dirinya telah menyelesaikan pendidikan doktor di luar negeri atau di Australia.
“Ketika mulai bekerja di Universitas Airlangga, gaji pokok yang saya terima adalah sekitar Rp2.600.000 per bulan. Artinya, setelah belasan tahun berkarier sebagai dosen, menempuh pendidikan doktor dan mendapatkan serdos, sertifikasi pendidik, penghasilan dasar saya sebagai dosen tetap masih berada pada tingkat yang sangat terbatas,” ujar Cenuk.
Dia menjelaskan, karier akademiknya dimulai pada 2010 sebagai dosen di Universitas Lancang Kuning dengan gaji sebesar Rp1,2 juta per bulan. Setelah itu, dia melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor dari Macquarie University, Australia, pada 2016.