Selama menjalankan misi, keduanya tak lepas dari ancaman keamanan. Suara bom dan kepulan asap kerap terdengar di sekitar lokasi. Namun, semangat kemanusiaan membuat mereka tetap bertahan dan terus membantu korban.
“Mereka tetap bekerja walau makan sulit. Kami hanya dua minggu, mereka sudah bertahun-tahun seperti itu,” ucap dr Kuntadi yang mengaku masih sering menangis jika mengingat kondisi di Gaza.
Kehadiran kedua dokter asal Malang ini tidak hanya membawa bantuan medis, tetapi juga harapan dan semangat hidup bagi warga Gaza di tengah penderitaan akibat konflik berkepanjangan.