Khusus para personel Corps Mariniers asal Pangkalan IV Tegal, sekiranya 25 kali mereka mengirim pasukan ke front Semarang di masa revolusi, untuk ikut Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Angkatan Darat mempersempit gerak pasukan Belanda.
Seiring berjalannya waktu, di masa revolusi, tepatnya pada 17 Maret 1948 sempat terjadi Reorganisasi dan Rasionalisasi atau dikenal "Re-Ra". Corps Mariniers dari Pangkalan Tegal telah memiliki pengalaman tempur di darat, sehingga pemerintah memutuskan untuk memisahkannya dari TNI AL.
Corps Mariniers kemudian dilebur ke dalam TNI AD Divisi Diponegoro dengan nama Resimen Samudera yang terbagi menjadi lima batalyon. Sementara bagi yang ingin tetap bersama TNI AL diminta mengajukan surat permohonan kepada Menteri Pertahanan dan Panglima Besar Angkatan Perang Mobil.
Pada 9 Oktober 1948 terbit Surat Keputusan No. A/565/1948 dari Menteri Pertahanan yang menetapkan pembentukan Korps Komando di lingkungan TNI AL (KKO AL). Namun, rekrutmen personel baru terealisasi setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949.
Saat itu personel KKO AL yang tercatat pada 1950, sebanyak 90 persen merupakan mantan Corps Mariniers Pangkalan IV Tegal sehingga Corps Mariniers yang dibentuk 15 November 1945 merupakan cikal bakal Korps Marinir TNI AL yang ada saat ini.