Sementara itu penggunaan kembali Korps Marinir, sebelumnya KKO AL merupakan sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut No Skep/1831/XI/1975 Tanggal 15 November 1975.
Pasukan ini menggunakan baret ungu. Pilihan warna baret tersebut memiliki sejarah, yaitu pada 1958 warna ungu dipakai oleh Korps Marinir (ketika masih bernama KKO-AL) berupa pita sebagai kode pengamanan untuk mengadakan operasi pendaratan di Padang, Sumatera Barat dalam rangka Operasi 17 Agustus.
Dalam perjalanannya, pasukan ini sering ikut berperan dalam setiap penyelesaian pergolakan bangsa. Perang Kemerdekaan, Operasi RMS, Operasi DI/TII, Operasi PRRI/Permesta, Operasi Dwikora, Operasi Seroja, Operasi G30S PKI, pengamanan Kepulauan Natuna dan Ambalat, Operasi Reformasi, Operasi Pengamanan Ambon, dan Operasi Rencong Sakti di Aceh.
Kemudian pernah diterjunkan dalam operasi pembebasan sandera oleh perompak Somalia. Bahkan, Korps Marinir juga aktif dalam Bakti TNI dan operasi bantu rakyat lainnya.
Selain itu, laman resmi Marinir juga menyebutkan, dalam rangka ikut serta menjaga ketertiban dunia, Korps Marinir terlibat aktif sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB sejak tahun 1960 sampai sekarang antara lain : Kontingen Garuda II dan III (UNOC) di Kongo (1960-1961), Kontingen Garuda IV, V, VI, VII di Vietnam (1973–1975), Kontingen Garuda VIII di Timur Tengah (1978), hingga MINUSTAH XXXII-C/Haiti, MONUSCO XX-K/Kongo dan YONKOMPOSIT XXXV-UNAMID.