Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Siswa SMP di Gresik Diduga Kena Peluru Nyasar Latihan TNI AL, Keluarga Ngaku Dapat Intimidasi
Advertisement . Scroll to see content

Penjelasan TNI AL soal Siswa SMP di Gresik Diduga Kena Peluru Nyasar, Tegaskan Tak Ada Intimidasi

Kamis, 02 April 2026 - 21:00:00 WIB
Penjelasan TNI AL soal Siswa SMP di Gresik Diduga Kena Peluru Nyasar, Tegaskan Tak Ada Intimidasi
Ilustrasi peluru nyasar. (Foto: Dok. Sindonews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir TNI AL, Mayor Ahmad Fauzi buka suara terkait kabar siswa SMP di Gresik, Darrell Fauta Hamdani (14) yang diduga menjadi salah satu korban terkena peluru nyasar dari latihan militer 4 batalyon di lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya. Fauzi menyampaikan empati dan simpati atas peristiwa yang menimpa dua korban tersebut.

“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” ujar Ahmad dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).

Ahmad menambahkan, sejak menerima informasi adanya peristiwa tersebut, pihaknya langsung melakukan koordinasi dan pendalaman di tempat kejadian perkara (TKP). Selain itu, pihaknya memastikan kedua korban mendapat tindakan medis. 

"Walaupun sampai saat ini belum bisa dipastikan bahwa peluru tersebut berasal dari Korps Marinir masih perlu penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut bahwa kesatuan telah memberikan perawatan di rumah sakit Siti Khadijah berupa membiayai seluruh operasi pengangkatan proyektil perawatan selama operasi dan kontrol lanjutan serta memberikan santunan kepada keluarga,” katanya.

Dia meluruskan terkait adanya dugaan kelalaian. Ahmad menegaskan, proses pendalaman hingga saat ini masih dilakukan. 

“Oleh karena itu asas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung. Kami memastikan bahwa setiap pelatihan militer memiliki prosedur dan pengamanan ketat,” tuturnya.

Sementara itu, terkait adanya tuduhan intimidatif terhadap keluarga korban, dia menegaskan hal tersebut tidak ada.

“Kehadiran perwira yang dimaksud semata-mata untuk kepentingan pendalaman teknis terkait dengan proyektif dan komunikasi dilakukan dalam situasi terbuka tanpa tekanan. Kami sangat menghormati hak dan martabat keluarga korban,” ucapnya.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut