Try Sutrisno secara fisik tumbuh dan berkembang pesat serta sehat. Perawakannya tinggi tegap, di atas rata-rata teman sebayanya. Dia dididik bersikap jujur, disiplin dan tegas oleh ayahnya. Tidak mengherankan jika kepemimpinannya terlihat menonjol.
Pada 1945 usai Proklamasi Kemerdekaan, situasi negara masih dalam keadaan genting. Tentara Sekutu yang diboncengi Belanda kembali merangsek Indonesia, tak terkecuali Surabaya.
Keadaan kota sungguh memprihatinkan. Untuk makan susah, hidup tenang juga tak gampang. Belanda yang berkedok NICA beberapa kali melanggar gencatan senjata sehingga memicu perlaanan gerilya arek-arek Suroboyo.
Kondisi yang kian memburuk itu membuat keluarga Bandi mengungsi ke Mojokerto, kota di pinggiran Surabaya. Bandi selanjutnya menjadi petugas Bagian Kesehatan Batalyon Poncowati di Purwoasri, Kediri.
Dalam keadaan darurat, tak mungkin bagi Try untuk melanjutkan sekolah. Hari-hari terasa kian berat. Untuk bertahan hidup, keluarga Soebandi harus menjual barang-barang tersisa yang sempat mereka bawa ke pengungsian.