Perhatian di kalangan pejabat pemerintah Belanda terhadap pendidikan kaum perempuan sudah mulai ada. Ini sejalan dengan gelombang kesetaraan dan feminisme yang tengah bergejolak di Eropa.
Lasminingrat menikah pada 1865 atau pada saat masih belia dengan Raden Tamtoe Somadiningrat, putra Pangeran Soeria Koesoemah Adinata atau pangeran Soegih dari istrinya Raden Ayu Rajapomerat (Putri R A A Wiranatakoesoemah III, Karanganyar Bandung).
Dari pernikahannya tersebut, Lasminingrat melahirkan seorang putri bernama Nji Raden Aminah Rajapomerat, kelak menjadi istri R A A Soeriadipoetra, bupati Lebak yang juga putra Raden Soeria Nataningrat.
Lasminingrat pulang ke Garut setelah Raden Tamtoe Somadiningrat meninggal dunia. Untuk menghilangkan kegundahan karena ditinggal sang suami, dia kembali menulis dan menerjemahkan buku-buku untuk bacaan anak-anak sekolah.
Ketika Lasminingrat mulai mengambil keuntungan dari pendidikan perempuan, ayahnya menikahkannya dengan calon bupati Garut saat itu, Raden Djenon.