Biografi Raden Ayu Lasminingrat, Bangsawan sekaligus Pelopor Kesusastraan Sunda
Sementara itu ibunya, Ayu Lasmi, tercatat sebagai keturunan Dalem Wiratanoedatar II, Bupati Cianjur.
Raden Haji Muhammad Musa diketahui bersahabat dengan orang Belanda bernama Karel Frederick Holle, pemilik perkebunan Teh Waspada di Cikajang, serta pejabat departemen, van Binnenlandsch Levyssohn Norman. Relasi yang dimiliki oleh ayahnya tersebut memberikan pengaruh terhadap perkembangan Lasminingrat.
Meski Lasminingrat seorang putri bangsawan, dia tidak disekolahkan karena saat itu di Garut belum ada sekolah khusus perempuan. Untuk itu, ayahnya mengirim dia bersama Levysshon Norman ke Sumedang untuk belajar bersama putri-putri priyai lainnya. Di sana Lasminingrat belajar, menulis, membaca, berbahasa Belanda, dan pengetahuan lain yang berhubungan dengan rutinitas perempuan.
Oleh karena itu dia memiliki otak cerdas, kemauan keras, cita-cita tinggi, dan tekun belajar. Ilmu yang didapat dari pendidikan mudah dikuasainya, sehingga dia menjadi perempuan Sunda pertama yang fasih berbicara bahasa Belanda dengan orang-orang Belanda di Garut.
Lasminingrat menjadi perempuan Sunda pertama yang mendapat pendidikan Barat pada sekitar tahun 1860, saat itu RA Kartini belum lahir.