Ketiga, keteladanan moral. Profesor harus menjadi agen moral dan spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru.
“Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar,” seloroh Mu’ti.
Mu’ti berharap semua pihak memperkuat dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama. Pertama, kebenaran agama (diniyah). Kedua, kebenaran aqliyah atau ilmiah.
“Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semakin optimistis bahwa Indonesia akan semakin maju ketika pendidikan Indonesia semakin berkualitas, khususnya pendidikan dasar dan menengah,” ujarnya.
Mu’ti mengakhiri arahannya dengan pantun, “Bunga mekar di pagi hari, menghias indah taman kota, guru besar berilmu tinggi, sang pencerah peradaban bangsa.”