Tokoh penting dalam pertempuran Surabaya ini adalah Mohammad Mangoendiprodjo, seorang pahlawan nasional keturunan Kesultanan Demak. Mohammad Mangoendiprodjo adalah cicit Setjodiwirjo atau Kyai Ngali Muntoha, seorang kawan seperjuangan Pangeran Diponegoro.
Pada tahun 1944, Mohammad Mangoendiprodjo bergabung dengan tentara PETA. Dia ditugaskan sebagai Komandan Batalyon di Sidoarjo. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno membentuk BKR dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Mohammad Mangoendiprodjo diangkat sebagai pemimpin TKR Jawa Timur. Pada suatu kesempatan, dia bersama AWS Mallaby melakukan patroli untuk memantau gencatan senjata.
Sayangnya, terjadi konflik yang menyebabkan dia disandera dan AWS Mallaby tewas. Inggris marah atas kematian AWS Mallaby dan menuntut agar Surabaya menyerah. Pernyataan tersebut ditolak oleh Mohammad Mangoendiprodjo dan seluruh pemuda Surabaya.
Akhirnya, pertempuran pecah. Mohammad Mangoendiprodjo turut memimpin pertempuran di Surabaya untuk mencegah Surabaya jatuh ke tangan sekutu.
Tokoh pertempuran Surabaya selanjutnya yakni Mayjen Sungkono. Setelah berdinas di PETA, Sungkono ditunjuk sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya yang bertanggung jawab dalam memimpin pertempuran melawan Inggris pada tanggal 10 November 1945.