3. Kebal Peluru, Tengku di Aceh Memakai Jimat Rantai Babi
Sosok pria bernama Tengku Cot Plieng dianggap menjadi ancaman oleh pasukan Belanda karena kebal peluru. Dalam buku karya HC Zentgraff berjudul “ATJEH, Geschreven door een oud Atjehman” diceritakan Tengku Cot Plieng dikenal sebagai pejuang yang tangguh melawan kompeni.
Tak satu pun dari tentara Belanda yang bisa membuntutinya. Bahkan warga Aceh pun tak berani menyebutkan di mana lokasi persembunyiannya. Keberadaannya baru bisa dilacak Belanda pada Juni 1904 oleh Kapten Stoop.
Saat itu, ia bersembunyi di antara celah-celah Glee Keulabee Asap. Saat disergap, ia bisa meloloskan diri, tetapi Al-Qur’an dan jimat rantai babi miliknya tertinggal. Dia ditembak dan wafat pada 2 Juli 1905 di Hulu Krueng Tiroe atau Sungai Tiro.
4. Kenapa Mayoritas Penduduk Singkawang Keturunan Tionghoa?
Kota Singkawang berada di Kalimantan Barat. Kota ini awalnya bagian dari Kabupaten Sambas yang merupakan Kecamatan Singkawang. Pada 2001, Singkawang resmi terpisah dari Kabupaten Sambas. Melalui UU Nomor 12 Tahun 2001 Singkawang ditetapkan sebagai daerah otonom dengan nama Kota Singkawang.
Dulu, desa ini tempat singgah para penambang emas dan pedagang emas dari Monterado yang kebanyakan berasal dari China. Sebelum mereka menuju Monterado, mereka beristirahat di Singkawang yang juga tempat transit pengangkutan hasil tambang emas.