Mendengar kabar itu, aku sangat sedih karena tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Jasmine. Setelah lulus SMA, aku mencoba berkomunikasi lagi ke Jasmine menggunakan surat.
Di akhir surat, aku menulis dengan penuh harap, “Apakah kita bisa bertemu kembali di universitas yang sama?”
Pagi itu aku yang sedang sarapan dengan tenang tiba-tiba tersendak karena melihat jam sudah pukul 7. Aku menggoes sepeda. Sialnya gerbang sekolah sudah ditutup dan pak satpam dengan wajah kesal berkata padaku di balik gerbang.
Lalu dibukakannya pintu gerbang itu, namun aku dan beberapa murid lain dihukum dengan berdiri di lapangan basket sampai jam pertama selesai. Aku melirik pos satpam, sebuah tempat dimana laki-laki itu setiap pagi datang dan bekerja sampai sore hari tiba.
Namanya adalah Pak Asep, tapi anak-anak sering memanggilnya “Mang Oray”, entah aku tak tau siapa pencetus panggilan tersebut pada Pak Asep. Dia sangat popular di SMA Negeri 1 karena dekat dan ramah dengan murid-murid, khususnya murid laki-laki.