Temanku bernama Risma adalah anak orang kaya sombong, selalu menghina, dan tidak ingin berteman dengan kami dengan alasan kami anak orang susah. Meski ia anak yang pintar, tetapi bukankah sombong adalah hal yang tidak terpuji?
Suatu ketika, Risma mengejek temanku karena bajunya jorok dan dekil. Kawanku menjadi tertawaan para teman-teman yang lain dan tidak ada yang mau duduk dengannya selain aku. Ternyata benar sombong membawa malapetaka.
Setelah beberapa bulan, Risma terpaksa pindah ke desa kampung halaman orang tuanya karena ayahnya tersandung kasus korupsi sehingga harus ditahan oleh aparat kepolisian.
Aku anak seorang pemulung dan pekerja buruh. Ayahku buruh pabrik dan ibuku sering bekerja mengumpulkan barang bekas, untuk menambah biaya sekolah dan kehidupan aku beserta adik-adikku.
Aku menjual kue di sekolah, kue apa saja yang dibuat ibu aku jual di kelas ke teman-temanku. Walau tidak banyak, cukup buat ditabung untuk membayar uang sekolah.