Ketika bercengkrama, Hana berkata, “Dara, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Namun, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Dara.”
Dara pun merenungi dan mencerna perkataan Hana, kemudian dia mencoba mewujudkan mimpinya menjadi pelukis meski tidak bisa berdiri tegak. Perlahan, Dara berhasil mewujudkan mimpinya dan lukisannya pun bisa dipajang di pameran besar.
Ketika masuk SMP, aku bersahabat dengan Jasmine. Pertemanan kita berawal ketika aku pingsan di jam olahraga. Sebelum pingsan, Jasmine sempat bertanya kepaku “Kamu tampak lemas, mau kupanggilkan guru untuk dibawa ke UKS?”
Aku yang berusaha terlihat kuat pun menjawab tidak dan memaksakan mengikuti kelas olahraga. Jasmine yang merasa aku sedang tak sehat pun memanggil guru untuk memberitahukan bahwa aku akan segera pingsan. Benar saja, aku pingsan dan dibawa oleh guru olahraga ke ruang UKS.
Setelah kembali ke kelas, aku berterima kasih ke Jasmine dan kita pun mulai akrab. Tiga tahun sudah aku dan Jasmine menjalin persahabatan, tetapi setelah lulus SMP, Jasmine mengikuti orang tuanya dan pindah ke Jakarta.