Oleh karena itu dia dan penganut Yahudi lainnya berupaya dengan cara apa pun untuk bisa memasuki kompleks, termasuk mengubah penampilan.
"Mengganti pakaian, ganti topi, kadang-kadang juga mengecat sedikit rambut dan mencukurnya. Umat Islam shalat lima waktu dalam sehari. Kami juga ikut beribadah seperti mereka, hanya saja kami melantunkan doa dalam Yahudi," ujarnya.
Awalnya dia mengaku takut ketahuan, namun kelamaan menjadi biasa. Selama penyamaran tak terbongkar, Morris mengaku bisa terus beribadah menggunakan cara seperti umat Islam, namun doa yang dilantunkan sesuai ajarannya.
"Akhirnya bisa beribadah dan bebas berjalan-jalan di Bait Suci tanpa dikawal polisi," tuturnya.
Sementara itu aktivis Palestina Hanady Halawani menegaskan umat Islam akan terus membela Masjid Al Aqsa, termasuk tak akan membiarkan pemukim Yahudi orang masuk dengan cara apa pun.
"Sudah jelas masuknya para pemukim (Yahudi) dengan menyamar... serta meneror umat Islam yang shalat di Masjid, ini jelas (bermotif) politik," tutur perempuan yang juga guru Alquran tersebut.
Israel merebut dan menduduki Yerusalem Timur, tempat Masjid Al Aqsa berada, pada 1967 dalam Perang Arab-Israel. Umat non-Muslim sebenarnya diperbolehkan masuk ke kompleks tersebut namun tidak boleh beribadah.