WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada awalnya dilaporkan setuju untuk memasukkan Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Namun tiba-tiba dia berubah pikiran.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi berhasil meyakinkan Trump bahwa Lebanon harus dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata. Pakistan merupakan mediator konflik Iran dan AS.
Stasiun televisi AS CBS News, mengutip sumber pejabat diplomatik di Gedung Putih, melaporkan Trump berubah pendirian setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump pada Selasa (7/4/2026) malam waktu Washington DC mengumumkan gencatan senjata dua arah dengan Iran selama 2 pekan. Namun beberapa jam setelah itu, Rabu (8/4/2026), pasukan Israel menggelar serangan udara besar-besaran ke Lebanon. Jet-jet tempur militer Zionis serta artileri Israel menyerang belasan tarhet permukiman di Lebanon selatan, termasuk Kota Tyre.
Akibat serangan Israel ke Lebanon, 182 orang tewas di hari itu, dan jumlahnya bertambah menjadi 300 orang lebih pada Jumat (10/4/2026).